Created: Monday, 10 June 2019 22:08 | Rate this article
( 0 Votes ) 
| Category: Journalism

Marx 201: Kembalinya Alternatif

 

Kembali ke Marx setelah krisis ekonomi 2008, berbeda dengan kepentingan pembaruan dalam kritiknya terhadap ekonomi.

Banyak penulis, baik di surat-surat kabar, jurnal-jurnal, buku-buku, dan teks-teks akademis, telah mengamati betapa analisis Marx terbukti tak tergantikan dalam memahami kontradiksi-kontradiksi dan mekanisme-mekanisme destruktif dari kapitalisme. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kita jumpai peninjauan kembali sosok Marx sebagai seorang tokoh politik dan teoritikus.

Publikasi naskah-naskah yang sebelumnya tidak dikenal dalam edisi Marx-Engels-Gesamtausgabe (MEGA) Jerman, bersamaan dengan penafsiran-pemafsiran inovatif atas karyanya, telah membuka cakrawala penelitian baru dan menunjukkan lebih jelas daripada di masa lalu kemampuan Marx untuk memeriksa kontradiksi-kontradiksi masyarakat kapitalis pada skala global dan dalam lingkup yang melampui konflik antara kapital dan buruh. Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa, dari pemikiran klasik politik, ekonomi dan filosofis yang hebat, Marx adalah sosok yang profilnya paling berubah dalam dekade-dekade awal abad ke-21.

Memikirkan Kembali Alternatif Dengan Marx

Penelitian baru-baru ini telah membantah berbagai pendekatan yang mereduksi konsepsi Marx tentang masyarakat komunis ke pengembangan superior dari kekuatan-kekuatan produktif. Secara khusus, penelitian itu menunjukkan betapa Marx sangat peduli dengan isu-isu ekologis: pada berbagai kesempatan, dia mengecam fakta bahwa ekspansi modus produksi kapitalis tidak hanya meningkatkan pencurian tenaga kerja buruh tetapi juga penjarahan sumberdaya-sumberdaya alam. Persoalan lain yang menjadi perhatian serius Marx adalah migrasi. Dia menunjukkan bahwa perpindahan paksa oleh buruh diciptakan kapitalisme sebagai komponen utama dari eksploitasi borjuis, Karena itu, menurutnya, kata kunci untuk memerangi migrasi ini adalah solidaritas kelas di antara pekerja, tanpa memandang asal-usul mereka atau perbedaan apapun antara tenaga kerja lokal dan tenaga kerja impor.

Marx juga masuk ke banyak masalah lain yang, meskipun sering diremehkan, atau bahkan diabaikan oleh para pengikutnya, menempati posisi yang sangat penting bagi agenda politik zaman kita. Di antaranya adalah kebebasan individu dalam bidang ekonomi dan politik, emansipasi jender, kritik  terhadap nasionalisme, dan bentuk-bentuk kepemilikan kolektif yang tidak dikontrol oleh negara.

Lebih jauh, Marx melakukan investigasi menyeluruh terhadap masyarakat-masyarakat di luar Eropa dan tanpa keraguan secara terbuka melawan kerusakan kolonialisme. Adalah sebuah  kesalahan untuk berpikir sebaliknya. Marx mengkritik para pemikir yang, sambil menyoroti konsekuensi destruktif dari kolonialisme, menggunakan kategori-kategori yang khusus untuk konteks Eropa dalam analisis mereka tentang wilayah-wilayah pinggiran di dunia. Berkali-kali dia mengingatkan mereka yang gagal mengamati pentingnya pembedaan-pembedaan antara fenomena, dan terutama setelah kemajuan teoretisnya pada dekade 1870-an, dia sangat berhati-hati dalam mentransfer kategori-kategori interpretatif melintasi bidang sejarah atau geografis yang sama sekali berbeda. Semua ini sekarang jelas, meskipun skeptisisme masih menjadi mode di lingkungan akademik tertentu.

Dengan demikian, tiga puluh tahun setelah runtuhnya tembok Berlin, menjadi mungkin untuk membaca Marx yang sangat berbeda dengan pembacaan teori-teori dogmatis, ekonomistik, dan Eurosentris yang diarak berkeliling begitu lama. Tentu saja, seseorang dapat menemukan dalam warisan keilmuan Marx yang masif, sejumlah pernyataan yang mengatakan bahwa perkembangan kekuatan-kekuatan produktif mengarah pada pembubaran modus produksi kapitalis. Tetapi akan salah untuk mengatributkan kepadanya ide bahwa kedatangan sosialisme adalah keniscayaan sejarah. Tanpa keraguan Marx mengatakan bahwa kemungkinan transformasi masyarakat bergantung pada kelas pekerja dan kapasitasnya, melalui perjuangan, untuk menghasilkan pergolakan sosial yang mengarah pada lahirnya sistem ekonomi dan politik alternatif.

Komunisme Sebagai Asosiasi Bebas

Berbeda dengan persamaan komunisme dengan “kediktatoran proletariat”, sebagaimana yang dianut banyak “real world socialisms” (merujuk pada Uni Soviet dan negara-negara Blok Timur) dalam propaganda mereka, adalah perlu untuk melihat kembali refleksi-refleksi Marx tentang masyarakat komunis. Dia pernah mendefinisikan komunisme sebagai “asosiasi manusia bebas”. Jika komunisme bertujuan untuk menjadi bentuk masyarakat yang lebih tinggi, maka komunisme harus mempromosikan kondisi-kondisi untuk “pengembangan penuh dan bebas setiap individu”.

Dalam Kapital, Marx mengungkapkan karakter hipokrit dari ideologi borjuis. Kapitalisme bukanlah organisasi masyarakat di mana manusia, yang dilindungi oleh norma-norma hukum yang tidak memihak, sanggup menjamin keadilan dan kesetaraan, menikmati kebebasan sejati dan hidup dalam demokrasi yang sempurna. Pada kenyataannya, dalam kapitalisme manusia terdegradasi menjadi objek belaka, yang fungsi utamanya adalah untuk menghasilkan komoditi dan keuntungan bagi orang lain.

Untuk membalikkan keadaan ini, tidaklah cukup melalui modifikasi distribusi barang-barang konsumsi. Yang diperlukan adalah perubahan radikal pada level aset-aset produktif masyarakat: “para produsen dapat bebas hanya ketika mereka memiliki alat-alat produksi”. Karena itu, menurut Marx, tujuan perjuangan buruh haruslah mengembalikan aset-aset itu kepada komunitas. Berkat potensi emansipatoris dari teknologi, adalah sangat mungkin untuk mencapai tujuan dasar komunisme: pengurangan waktu kerja yang diperlukan (necessary labour time) dan peningkatan kapasitas, bakat-bakat kreatif, dan aktivitas-aktivitas individual yang menyenangkan. Model sosialis yang ada dalam pikiran Marx, tidak mengijinkan terjadinya kemiskinan yang luas tetapi menghendaki pencapaian kekayaan kolektif dan kepuasan kebutuhan yang lebih besar.

Marx juga berkomentar bahwa, dalam modus produksi komunis, “kepemilikan pribadi atas planet ini oleh individu-individu sama absurdnya dengan kepemilikan satu manusia oleh manusia lainnya”. Dia mengarahkan kritiknya yang paling radikal terhadap jenis kepemilikan destruktif yang melekat dalam kapitalisme, menunjukkan bahwa masyarakat tidak memiliki lingkungan tetapi memiliki “tugas untuk mewariskan dunia dalam kondisi yang lebih baik kepada generasi mendatang”.

Hari ini, tentu saja, kaum Kiri tidak dapat dengan mudah mendefinisikan kembali politiknya seputar apa yang ditulis Marx lebih dari seabad yang lalu. Tetapi juga tidak seharusnya melakukan kesalahan dengan melupakan kejelasan analisisnya atau gagal menggunakan senjata kritis yang ia tawarkan untuk pemikiran yang lebih segar tentang sebuah masyarakat alternatif di luar kapitalisme.***

Marcello Musto(1976) adalah Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto). Ia telah menulis banyak buku dan artikel yang diterbitkan di lebih dari 20 bahasa. Di antaranya ia mengedit beberapa volume seperti Karl Marx’s ‘Grundrisse’: Foundations of the Critique of Political Economy 150 Years Later (Routledge, 2008); Marx for Today (Routledge, 2012); Workers Unite!: The International 150 Years Later (Bloomsbury, 2014). Ia juga menulis buku Another Marx: Early Manuscripts to the International (Bloomsbury, 2018) dan The Last Marx (1881-1883): An Intellectual Biography (forthcoming 2019). Tulisan-tulisannya tersedia di www.marcellomusto.org. Buku terbarunya dalam bahasa Indonesia berjudul, Marx Yang Lain, akan diterbitkan dalam waktu oleh penerbit Marjin Kiri.